nuffnang

Tuesday, July 3, 2018

Please, say something


Is there any things that make you sad,
After a long day work,
You deserve to take a rest.

Let me lighting up our room,
With serendipity and love,
To fills in our room.

Come and rest on my arms,
Let me stroke your hair gently,
While caressing you,
I will let you talk.

Let me hear your feelings,
Thats burden and annoy you all day long.

Please, say something
Or else, i will kiss yours lips.

Please, say something
I might flustered your heart to make love with me.

Is there any things else you want to talk about?
 while we making out.

I might to get you lost in lust.

Please, say something.

Thursday, August 3, 2017

Rusuh Magis



Malam yang runsing

Sering merusuh kalbu

Menikam cinta

Berdarah gelora sayang.


Malam yang runsing

Mengungkap kisah luhur

Berjanji sehidup semati

Meruntuhkan dinding antara dua jiwa.


Malam yang runsing

Menghanyutkan kita

Seperti magis yang mempesona

Menajamkan setiap inti rasa diminda.


Malam yang runsing

Berjanji kita berdua

Tiada pisah tiada luka

Hanya kasih yang sering dinoda.


Malam yang runsing

Warna merah dan biru

Sering dibelai menghalusi setiap garis


Membuat jantung berdegup seirama.

Tuesday, July 18, 2017

Ludah


Provokasi yang panjang,

Melalut dan berlarut siang,

Merengkok berselubung ranjang,

Terkial diikat kaki melompat kijang,

Bukan senang kau idamkan senang,

Biar comot berluruhkan rujukan janjang.


Ramai terkial mencari dogma,

Belum mentelaah sudah tunjuk ritma,

Bunyi sumbang tiada ruh yang bergaya,

Ke langit ludahnya,

Bermohon angkuh dengan ilmu nirmala,

Relativiti menolak ludah jatuh ke muka.




Papakerma sungguh kau.

Wednesday, November 30, 2016

GOLDEN BARKING DOG

You may be blind with your arrogant throng,

Your mind reflects as you shone like a star,

In the midst of darkness your thought illuminate,

Falsely.



Does others happiness making you biting your lips with vexation?

Does others confidence annoy you?

We all sick and tired,

There’s even some of us died in agony,

By just looking at your “oh! Look at me”



Just like hopes and like faith,

With the sureness of bird songs,

I know where am I belongs.




Be yourself, respect others.




Tuesday, August 23, 2016

Kahleel


Hey son,
When i was 7 years old,
I did toxicated my uncle aquarium,
with a lot of a detergent,
which I thought it was a fish food.

But you are still 11 months baby,
Just bare with this life a little bit more,
So I want to see what will happen when you becomes 7 years old.

When i was a 12 years old,
I got a new lust and desire,
Make me so excited,
Spent over an hours exploring it in my bathroom and I even cooked it,
I am very enthusiastic and eager.

But you are still 11 months baby,
Just bare with this life a little bit more,
So I want to advise you and to educate you more when you becomes 12 years old.

When I was in a teenager,
I did try everything in discreet and disgraced,
And I becoming so ego and arrogant,
And so they called it “teen spirit”,
But somehow i was lost in the middle,
Bring chaos to myself.

But you are still 11 months baby,
Just bare with this life a little bit more,
So I want to be there with you and become your friend when you becomes a teenage boy.

And when I was in my adults age,
I broke-up so many relationship,
I bring tears and hate towards me.

And that will be a lesson for me and you to learn more together,
Explore together,
Laugh with you,
As a father , as a friend,
as what my father did to me,
I am definitely will doing better when you becomes an adult.

And when I died,
I want you to be happy,
You dont have to be sad or gloom when I’m gone,
Because I was already happy to see you growth so well.

inshaAllah.



Friday, July 22, 2016

XX


Sepetang lalu,
Waktu ku bersiar di susur pejalan kaki ini,
10 tahun yang dahulu itu,
Kembali  sejenak.

Tak ku sangka bahu yang ku langgar itu rupanya
Kekasihmu,
Masih sempat untuk bertukar renungan,
Seperti dejavu,
Wajah itu pernah ku kenali dahulu.

Masih sempat berbalas senyuman,
Adakah kau masih akan toleh padaku
Setelah kita berlalu pergi ?

Belum sempatku mengatur langkah,
Kau sapaku dan menghulur sekeping kertas.

Petang itu yang masih sayup,
Ditiup angin bayu,
Bagai membawaku mengimbau waktu lalu,
Waktu kau masih ku empunya.

Sambilku berjalan melihat kertas itu,
Ku sangkakan nombor telefonmu yang tertera di situ,
Membelek ku tanpa rasa sangsi,
Ia berbunyi.
“masih adakah sayang dalam mu?”


Ku senyum berlalu pergi.

Thursday, May 12, 2016

BLACK SHEEP


Baa Baa black sheep,

Have you any wool?

Since he asked,

Repeated through seemless times,

Aren’t we curious.



Yes, sir.

3 bags full.

There’s he goes again,

Again and again,

Abracadabra,

Are we still consuming all the hype?

In the absence of truth there is nothing but falsehood,

And yes we are all being arrogant,

Bastard arrogant.


1 for the master’s,

1 for the dame’s,

And 1 for the kids who lives down the lane.

We seems look-up for equality,

But we actually forgot the equity are far beyond better,

And yes,

We still being arrogant,

Ignorance,

Selfish, bastard.


Baa baa black sheep,

Have you any wool?


Bastard.

Thursday, April 7, 2016

Hey Beautiful

To forget,

And being legit,

It is hard for me to get it.


Being respectful,

Is Forgetful,

They told me im being a fool.



Its been long,

How can i be wrong,

You’re beautiful and i cant be long.



Time is always there,

Reminiscing shit and my brain is sick,

Thinking of you are being mine is doubtful sins,

And it making me sing.



Oh la la la la la oh la la la la.

Tuesday, December 22, 2015

Waktu tenang




Ya, Aku egois,

Ingin terus aku kikiskan fitur durjanaku ini,

Tetapi bagaimana?

Berubah seolah-olah tunduk kepuraan,

Tidak akan kekal sifat tu.



Berikanlah aku masa,

Untuk aku memperhalusi idiosinkrasiku ini.



Bukan mudah untuk kau takluki jiwa ini,

Kau hanya manusia yang bole mati jika ku tikam,

Sebagaimana kau akan menikam kelak,

Hanya Allah jiwaku serahkan,

Bukan padamu yang berpura keagungan.



Berikanlah aku masa,

Seolah masa itu sindiran untuk binasa diriku.


Ya, sememangnya aku egois,

Bukan kerana untuk aku menang,


Tetapi untuk aku melindungi harta nurani.

Wednesday, November 18, 2015

Apophenia

Stared through the window,
While hoping there’s a glimpsed of heavenward lights.

Through endless time and space passed by,
The vision hallucinates confusing the brain,
Losing all the axis.

Suddenly,
I was alone in the dark of the universe,
Then, I looked up.
I saw a lot of strings attached to every inch of my body,
And it moved by itself.

Forcing me to walked towards the darkness,
And I thought, this could be the chance to get out of the misery.

Heavy burden upon my head,
All my muscle stressed out,
Too tired to thinks, too tired to define.

My eyes shut.

A stink odor went caught in my breath,
Make me felt like choke to death,
And all of sudden,
I hear voices all around me,
I’ll tried to open my eyes,
But the light are so dense and bright,
Nullify my vision to capture surround me.

Then, I heard a strong voice,
going right through my auditory canal boldly,
He said  “Get up! You are fuck up.”





Monday, August 17, 2015

The Forgotten hero

Day by day passes,
People tend to go forwards,
Claimed whatever desired, they want to,
Soon they will forget everything.

Everything that, was once held us as whole,
As a band of brothers, stands side by side,
While holding hands, smile at the glittering dreams,
That was once we want it so much to build.

Nothing but a memory of a person,
drowned in a lake of temptation.

We will soon forget the hero,
Who was once inspired us to challenge the odds,
Heroes that brings us to victory,
But he died in the middle of glorious crusade.

Soon we also will be forgotten as we did right now today.
He will probably smiled or cried,
No one knows,
Because he is the forgotten hero.

Thursday, July 30, 2015

Kalaulah Aku

Mati itu pasti,
Tiada apa yang boleh kita ubah,
Alangkah bagus pada tika ini kita bersyukur dan menghargainya.

Kalaulah aku,
Boleh ubah waktu-waktu lalu,
Pastinya aku berbuat baik dengan penuh kasih sayang,
Setiap tuturcara kataku lebih halus dan penuh cinta,
Sebelum dia hilang seperti titik noktah.

Kalaulah aku,
Diberi kebijaksanaan seperti hari ini,
Pasti senyumanku lebih lebar dan ikhlas,
Setiap sapaan kalian pastiku sambut dengan tangan yang lebar luas untuk memeluk kamu.

Kalaulah aku,
Masih seperti ini untuk waktu dulu,
Sudah pasti tak ramai tersinggung dengan peradabanku.
Dunia ini pasti lebih nyaman walaupun bukan di dalam belantara.

Kalaulah aku,
Masih mencintaimu,
Maafkan aku,
Caraku mungkin kasar,
Tapi hatiku masih lembut dan selesa untuk kamu duduki.

Kalaulah aku.

Zulhadry Zolkafli 31.07.2015

Friday, April 3, 2015

Idiosinkratik aku

Lusuh lelah bersilih ganti,
Melajukan adrenalin dalam buluh darahku,
Optikal illusi dikaburi dengan suasana yg aman,
Mengamat suasana lapang dan sejuk,
Menenangkan jiwa luhur.

Setiap lekuk bertakuk,
Menyiksakan sistem endokrin,
Tatkala duka berubah suka,
Endorfin dirembes halus dipelusuk minda,
Masam berubah manis,
Lara bertukar bahagia,
Jika ini rasa cinta luhur,
Pasti aku simpan dan biaskan di setiap hari-hari mendatangku.

Hijau redup pohon sena,
Melindung setiap terikan durjaya sinar ungu,
Mari, ke sini kau,
Inginku bisik : jiwaku luhur.

Monday, March 23, 2015

The bane of one's life

Kayuhan pertama membuatku tenggelam dengan illusi lampau,
Memang rindu itu membuatku menjadi lebih tua,
Lebih perlahan dari dulu,
Lebih berat dari dulu,
Menghilangkan rasa kerakusanku terhadap velositi.

Tetapi seketikaku pejamkan mata,
Deruan angin meresap setiap inchi kulitku,
Membuatku terpersona indah,
Dengan ulitan manja deruan bunyi,
Mengingatkanku kepada bukit bintang,
Apabila papan itu di"pop"kan membuat teringat di KLCC,
gelak ketawa riang rakan seperjuanganku,
Membuatkan diriku berani pada waktu itu,
Setiap luka, terseliuh, lebam yang sakit itu,
Membuatkan aku lebih kuat untuk mengatasinya,
Cintaku terhadap velositi sememangnya tinggi hingga kini.

Setelah ku mencelikkan mata satu dimensi ini,
Tiada teman di sisiku,
Tiada kumpulan bersamaku,
Cuma aku, bukit dan selekoh itu menjadi saksi.

Velositi itu yang dahulunya cinta luhurku,
Cuba meninggalkanku bersama graviti,
Seretan pertama untuk cubaanku memperlahankan cinta velositiku,
Terkubur layu di tepi bahu jalan,
Aku tahu sekarang bukan aku teman jiwamu,
Tapi engkau masih aku sayang,
dan akan aku terus berusaha mencarimu.

Monday, September 15, 2014

Tok, tok, siapa tu?

"Assalamuailaikum kak." Siapa 'kak' ini?
Tiada siapa pun kenal, bukan senang hendak kita bergaul dengan orang yang tidak dikenali. Tapi aku sengaja sapa untuk lihat reaksi makcik tua ini supaya dia terasa muda dan bertenaga sedikit untuk hari ini.
"Waalaikumusalam, kamu ni dari mana?".
Mula la dialog berkenalan sedikit-sedikit sehingga makananku, nasi lemak sotong beserta telur goreng tiba di meja.
Tiba-tiba si makcik tua ini bagaikan mendapat perasaan baru menegur sekeluarga bangsa cina di sebelah. Sambil menangguk-anggukkan kepalanya dan senyum kemudia berkata padaku.
"Tak sangkakan, rupanya yang datang sini semua bukan dari kampung akak ni. Kamu ni bujang lagi ke siap berjalan dari kolumpur ke melaka ni."
"Takdelah kak, saya dh berkahwin, kebetulan isteri ke thailand dan anak saya dirumah pengasuh. Saya ambil kesempatan nk lihat kampung akak ni. Tak pernah saya ke sini". Ujarku.
Siapa sangka dikeliling kita ini ada pelbagai drama-drama yang kita tidak pernah ambil peduli,
Drama - drama ini lebih tulen dari yang ada di kaca televisyen kita.
Mengapa kita perlu rasa takut untuk berbuat demikian? Mengenali kepada sesuatu yang bukan dari ruang cincin persahabatan kita.
Facebook? Tweeter? Apa semua sudah lupa yang dahulunya kita pakai surat layang untuk mengenali gadis-gadis disekolah.
Poke? Bukankah kita selalu mencucuk-cucuk bahu-bahu yang tidak pernah kita rapat.
Indahnya dunia yang tulus ini.
Bebas dari jari jemari onar.
Berkata-kata dusta lebih dari pembunuh-pembunuh kejam.


Zulhadry Zolkafli 15hb september 2014



Saturday, August 2, 2014

zionist condemnation

The vicious king looks upon us,
They scare for us to gather forces,
that will shreds their lives into pieces,
They foreseen us like an ember lighting up the hell,
So they asked their armies of mole from the northern hill,
Crawling beneath the mud to crushed the ember into ashes 
But they have forgotten that we are not standing here alone,
Even without any weapon in our hands to strike,
and technologies for our ear to hear and the eye to see,
We will rose from this solitude,
Binding hand to hand and march together without fear,
Against the kings of lust, 
That hungered for blood,
With a small of chances we will attack! Attack! Attack!
An endlessly mission of fighting,
But will eventually,
Rupture their armour of greed and pride,
Bleeds in their own words,
Bleeds in their own action,
Their death will slowly condemn in torment and torture,
Our d'ua is like a whisper as we will tame the vicious sea,
Like a feather will bringing down their kingdoms to their knees,
The dignity they have long build for the world will be destroy,
And burnt into the reign of their own hell.


Zulhadry Zolkafli #supportgaza 

Saturday, July 12, 2014

Lady In Red


Out of nowhere,
You just walked past through me,
In my own awareness,
my desire like spontaneously combust and melted all the sanity inside of me,
My thoughts distract me but it helps me somehow,
to see more apparent than my eye does,

Lady in red,
Dazzling in the crowd of righteous,
Tend to let people stray from their path,
Seeing the only desirable world to live in,
By becoming blind from the righteous and holy,
I knew you would come along,
Tag along with others and dance hand by hand to the dark side.

I saw you coming,
But nothing is left inside of me,
I am so powerless to confront you.
I am weak to hold a weapon against you,
But I do know I won't stand alone against you,
I am definitely sure Allah is here with me.

You can rip me apart,
but you won't have me to join your side.

Lady in red,
Such a wonderful feeling,
A lot of people can't ignore you,
I can't ignore you either,
I am such a fool,
But I rather die fighting than doing nothing.

Zulhadry Zolkafli 13072014

Thursday, June 19, 2014

Setanggi terapi sayang


Bagaikan lautan,
Yang beralun ombak,
Bunyi desiran pantai membisik di telinga,
Haruman baumu masih ada di badanku,
Tak sedar lamunanku hampir sepanjang malam,
Masih terngiang gelak tawamu sambil jari jemariku kau genggam erat,
Dengan tidak henti kata-kata keluar dari bibirmu,
Menghipnotis mindaku yang penuh dengan oxytocin,
Berderu darahku mengalir laju terus ke jantung yang tidak henti berdegup,
Gila perasaan ini,
Boleh buat siang jadi malam,
Basah jadi kering,
Lapar jadi kenyang,
Gila seperti kokain merembes dopamine diminda,
Seperti khayal ganja yang tidak sedarkan paksi realitinya,
Oh, lautan biru,
Benar-benar menghayut kelaraan ini hilang hingga di hujung dunia,
Baumu, masih aku hidu,
Sambil berpeluk sendiri tersenyum mengelamun indah,
Cinta listrik yang indah, penuh dengan keterujaan.

Thursday, February 27, 2014

Sehampir lelap

Lihat,
Sumur yang tiada penghujung,
Hilang di dalam kabus onar,
Majulah kamu kalau terasa sangsi,
Jika tidak pasti spekulasi bodoh dijadikan pedoman.

Dengar,
Siulan remang si ngilai venus,
Jangan biarkan jari menunding,
Lebih bagus kalau kita menjerkah si illusi gondrong.

Cakap,
Biarlah lidah yang lembut menggulung kata,
Berpura ada berkata tiada,
Jangan mohon di penghujung hari takut dihingap sengat buku lima sasa.

Jangan bersiul di dalam gelap,
Nanti parah terjumpa si ngilai,

Thursday, October 10, 2013

seusai hujan

bianglala,
mengamat mata melihat,
terpaku jiwa melihat biasan warna-warna Pencipta,
Tinggi di puncak dunia, bagaikan menari di langit biru.

dahulunya aku riang bila temu denganmu,
sekarang pelbagai mulut binasa meninggalkan onar di mindaku,
membuat ku kaku, tunduk dengan telunjuk peterna.

perlukah aku takut? perlukah aku ikut?

ya, Rabbi,
lukiskan senyum di mukaku,
agar boleh aku menari bersama bianglalaMu.